Inspirational 01
Lebih kurang 10 tahun yang lalu, salah satu dosen MIPA Unesa Surabaya memberikan sebuah eksemplar majalah keluaran Unesa. Majalah itu bentuk dan desainnya sangat sederhana. Ketika saya membuka-buka isinya, ada tulisan yang sangat menarik perhatian saya. Tulisan itu sangat impresif dan sangat inspiratif. Sayang tidak disebutkan nama penulisnya. Sampai sekarang saya masih penasaran ingin tahu siapa penulisnya. Terus terang saya ingin berkenalan. Inilah tulisan yang mampu membuat saya masih penasaran sampai sekarang:
Anda terinspirasi? Mudah-mudahan. Jika Anda tahu pengarangnya, tidak keberatan kan Anda memberikan informasi itu kepada saya? Saya tunggu informasi Anda dengan harap-harap cemas.
Aku Tidak Memilih Menjadi Insan Biasa
Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku menjadi luar biasa
Aku mencari tantangan
Bukan perlindungan
Dan siap menghadapi resiko
yang telah kuperhitungkan
Dengan gagah berani aku hadapi dunia
Dan berkata, "Inilah karyaku!"
Segalanya ini memberikan makna
bagi seorang insan
Tujuan hidup mengarahkan langkahku
Percaya diri menguatkan derapku
Kemauan adalah sumber energiku
Keuletan menerjang habis rintangan
Langkahku tak bisa dihentikan
Anda terinspirasi? Mudah-mudahan. Jika Anda tahu pengarangnya, tidak keberatan kan Anda memberikan informasi itu kepada saya? Saya tunggu informasi Anda dengan harap-harap cemas.


2 Comments:
At 5:09 AM,
Dian Sakura said…
Menarik sekali kalau berbincang tentang sebuah pilihan. Karena itu menjadi prerogratif setiap orang. Sebuah wilayah zona ekonomi eksklusif yang tak boleh disentuh orang lain, meskipun kadang pengaruh orang lain tetap bisa masuk. Saya jadi teringat dengan seorang teman yang menyatakan bahwa sekeras-kerasnya ia bekerja, gaji yang didapat sama jumlahnya dengan saat ia bekerja biasa atau bahkan malas sekalipun. Saat ia menyatakan hal itu sebenarnya saya ingin marah. Tetapi buru-buru saya tersadar karena itu pilihannya dan telah masuk dalam persepsinya bahwa kerja = gaji. Sementara satu teman lainnya, memilih menikmati hidup dengan ngglundhung semprong. Tanpa warna berarti, setidaknya itu menurut saya. Kesehariannya tidak pernah lepas dari triangle kerja - di kantor - madhep komputer, main-entah kemana, dan kost. Aneh rasanya melihat kehidupan macam itu. Kelihatannya kok cemplang, tak ada nuansa lain, atau apalah istilahnya.
Tetapi sekali lagi saya coba memberi pengertian diri sendiri. Apa hak saya atas alur kehidupan mereka? Mengingatkan atau memberi pandangan sebagai teman, bukankah lebih dari cukup? Bukankah meraka yang telah memilih untuk menjadi the ordinary people, bukan menempa diri meniti garis kehidupan seorang insan luar biasa...
-dianika-
At 6:41 AM,
RealMoney said…
Mas... pengarangnya adalah - Dean Alfange - dan ini adalah tulisan lengkapnya :
"AKU TIDAK MEMILIH MENJADI INSAN BIASA"
Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku menjadi luar biasa
Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan
Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung
Rendah diri dan terperdaya karena dilindungi pihak yang berkuasa
Aku siap menghadapi resiko terencana
Berangan-angan dan membina
Untuk gagal dan sukses
Aku menolak menukar insentif dengan derma
Aku memilih tantangan hidup daripada derma
Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin
Kenikmatan mencapai sesuatu,
Bukan utopia yang basi
Aku tidak akan menjual kebebasanku
Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma
Aku tidak akan merendahkan diri
Pada sembarangan atasan dan ancaman
Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani
Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri
Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri
Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata;
"Ini Telah Kulakukan!"
Segalanya ini memberikan makna seorang insan!
Post a Comment
<< Home