My World of Human Resource Development

Thursday, May 04, 2006

Inspirational 01

Lebih kurang 10 tahun yang lalu, salah satu dosen MIPA Unesa Surabaya memberikan sebuah eksemplar majalah keluaran Unesa. Majalah itu bentuk dan desainnya sangat sederhana. Ketika saya membuka-buka isinya, ada tulisan yang sangat menarik perhatian saya. Tulisan itu sangat impresif dan sangat inspiratif. Sayang tidak disebutkan nama penulisnya. Sampai sekarang saya masih penasaran ingin tahu siapa penulisnya. Terus terang saya ingin berkenalan. Inilah tulisan yang mampu membuat saya masih penasaran sampai sekarang:

Aku Tidak Memilih Menjadi Insan Biasa

Aku tidak memilih menjadi insan biasa
Memang hakku menjadi luar biasa
Aku mencari tantangan
Bukan perlindungan
Dan siap menghadapi resiko
yang telah kuperhitungkan

Dengan gagah berani aku hadapi dunia
Dan berkata, "Inilah karyaku!"
Segalanya ini memberikan makna
bagi seorang insan

Tujuan hidup mengarahkan langkahku
Percaya diri menguatkan derapku
Kemauan adalah sumber energiku
Keuletan menerjang habis rintangan
Langkahku tak bisa dihentikan

Anda terinspirasi? Mudah-mudahan. Jika Anda tahu pengarangnya, tidak keberatan kan Anda memberikan informasi itu kepada saya? Saya tunggu informasi Anda dengan harap-harap cemas.

2 Comments:

  • At 5:09 AM, Blogger Dian Sakura said…

    Menarik sekali kalau berbincang tentang sebuah pilihan. Karena itu menjadi prerogratif setiap orang. Sebuah wilayah zona ekonomi eksklusif yang tak boleh disentuh orang lain, meskipun kadang pengaruh orang lain tetap bisa masuk. Saya jadi teringat dengan seorang teman yang menyatakan bahwa sekeras-kerasnya ia bekerja, gaji yang didapat sama jumlahnya dengan saat ia bekerja biasa atau bahkan malas sekalipun. Saat ia menyatakan hal itu sebenarnya saya ingin marah. Tetapi buru-buru saya tersadar karena itu pilihannya dan telah masuk dalam persepsinya bahwa kerja = gaji. Sementara satu teman lainnya, memilih menikmati hidup dengan ngglundhung semprong. Tanpa warna berarti, setidaknya itu menurut saya. Kesehariannya tidak pernah lepas dari triangle kerja - di kantor - madhep komputer, main-entah kemana, dan kost. Aneh rasanya melihat kehidupan macam itu. Kelihatannya kok cemplang, tak ada nuansa lain, atau apalah istilahnya.
    Tetapi sekali lagi saya coba memberi pengertian diri sendiri. Apa hak saya atas alur kehidupan mereka? Mengingatkan atau memberi pandangan sebagai teman, bukankah lebih dari cukup? Bukankah meraka yang telah memilih untuk menjadi the ordinary people, bukan menempa diri meniti garis kehidupan seorang insan luar biasa...
    -dianika-

     
  • At 6:41 AM, Blogger RealMoney said…

    Mas... pengarangnya adalah - Dean Alfange - dan ini adalah tulisan lengkapnya :

    "AKU TIDAK MEMILIH MENJADI INSAN BIASA"

    Aku tidak memilih menjadi insan biasa

    Memang hakku menjadi luar biasa

    Aku mencari kesempatan, bukan perlindungan

    Aku tidak ingin menjadi warga yang terkungkung

    Rendah diri dan terperdaya karena dilindungi pihak yang berkuasa

    Aku siap menghadapi resiko terencana

    Berangan-angan dan membina

    Untuk gagal dan sukses

    Aku menolak menukar insentif dengan derma

    Aku memilih tantangan hidup daripada derma

    Aku memilih tantangan hidup daripada kehidupan yang terjamin

    Kenikmatan mencapai sesuatu,

    Bukan utopia yang basi

    Aku tidak akan menjual kebebasanku

    Tidak juga kemuliaanku untuk mendapatkan derma

    Aku tidak akan merendahkan diri

    Pada sembarangan atasan dan ancaman

    Sudah menjadi warisanku untuk berdiri tegak, megah dan berani

    Untuk berpikir dan bertindak untuk diri sendiri

    Untuk meraih segala keuntungan hasil kerja sendiri

    Dan untuk menghadapi dunia dengan berani dan berkata;

    "Ini Telah Kulakukan!"

    Segalanya ini memberikan makna seorang insan!

     

Post a Comment

<< Home